Showing posts with label Kumpulan Hadits. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Hadits. Show all posts

Wednesday, October 23, 2019

Kumpulan Hadits Shahih Tentang Puasa Ramadhan - Hadits Shahih Bukhari

Blog Khusus Doa - panas Alhamdulillah, dengan kesempatan ini kami atas berbagi tentang hadist-hadits shahih seputar puasa ramadhan. Seperti yg kita ketahui, beberapa hari lagi umat muslim di seluruh penjuru dunia atas memasuki bulan yg penuh barokah yakni bulan puasa ramadhan 2020.

Dengan dihadirkannya kumpulan hadits tentang puasa ini kami berharap beroleh menambah ilmu pengetahuan kita semua khususnya tentang puasa ramadhan, sehingga lebih memaksimalkan kekhusu'an kita dalam beribadah kepada Allah SWT di bulan suci ramadhan dengan dasar dalil ataupun hadits yg shahih. Karena dengan hadits-hadits shahih seputar puasa ramadhan ini atas membahas hal-hal yg berkaitan dengan puasa khususnya puasa ramadhan seperti keutamaan puasa, kewajiban puasa bersama larangan seputar puasa.



Untuk lebih jelasnya, silakan langsung saja kita simak bersama pelajari hadits-hadist shahih bukhari tentang puasa ramadhan berikut ini:

Dalil & Hadits Shahih tentang Kewajiban Puasa Ramadhan

panas panas يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya :
“Hai orang-orang yg beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, dia mengisahkan
panas panas أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ
Artinya :
Ada seorang Arab badui yg rambutnya berdiri datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang sholat yg diwajibkan Allah kepadaku.” Beliau menjawab, “Sholat lima waktu kecuali andaikata kamu ingin menambah sholat yg lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku puasa yg diwajibkan Allah kepadaku”. Beliau menjawab, ”Puasa di bulan Ramadhan, kecuali apabila kamu mau melakukan puasa lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku zakat yg diwajibkan Allah kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Lalu lelaki itu berkata, “Demi Tuhan yg memuliakanmu. Aku tidak atas menambah bersama mengurangi apa yg Allah wajibkan kepadaku barang sedikit pun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia pasti beruntung andaikata dia jujur.” ataupun “Dia pasti masuk surga andaikata dia jujur.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, dia berkata:
panas panas أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
Artinya :
Kaum Quraisy panas tempo hari biasa melakukan puasa ‘Asyura di masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan untuk berpuasa dengan hari itu sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yg ingin berpuasa dengan hari itu -‘Asyura- maka silakan berpuasa. Dan barang siapa yg tidak ingin berpuasa silakan berbuka.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih tentang Keutamaan Puasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
Artinya :
“Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor bersama berbudat bodoh. Apabila ada orang lain yg memerangi ataupun mencacinya, hendaklah dia katakan, ‘Aku sedang puasa’ (dua kali). Demi Tuhan yg jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yg berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia rela meninggalkan makanan, minuman, bersama syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku bersama Aku sendiri yg atas membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadist Shahih tentang Puasa beroleh menghapuskan dosa

Dari Hudzaifah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ
Artinya :
“Fitnah/dosa dengan diri seseorang karena keluarga, harta, ataupun tetangganya atas terhapus dengan sholat, puasa, bersama sedekah.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadist Shahih tentang Pintu Syurga ar-Royyan bagi Orang-orang yg Puasa

Dari Sahl radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
Artinya :
Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yg bernama ar-Royyan. Orang-orang yg berpuasa atas memasukinya dengan hari kiamat. Tidak ada seorangpun yg memasukinya selain mereka. Akan ada yg berseru, ‘Manakah orang-orang yg berpuasa?’. Maka bangkitlah mereka. Dan tidak atas memasukinya selain mereka. Apabila mereka sedia masuk, maka pintu itu atas ditutup sehingga tidak atas ada lagi yg masuk melewatinya seorang pun.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ
Artinya :
“Barang siapa yg menginfakkan dua pasang hartanya di jalan Allah maka dia atas dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.’ Barang siapa yg tergolong ahli sholat maka dia atas dipanggil dari pintu sholat. Barang siapa yg tergolong ahli jihad maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa yg tergolong ahli puasa, maka dia atas dipanggil dari pintu ar-Royyan. Barang siapa yg tergolong ahli sedekah, maka dia atas dipanggil dari pintu sedekah.” Abu Bakar radhiyallahu’anhu berkata, “Ayah bersama ibuku sebagai penebusmu, wahai Rasulullah. Bahaya apalagi yg perlu dikhawatirkan oleh orang yg dipanggil dari pintu-pintu tersebut. Apakah ada orang yg dipanggil dari semua pintu tersebut?” Maka Nabi menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk di dalamnya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih - Boleh menyebut ‘Ramadhan’ tanpa kata ‘Bulan’

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
Artinya :
“Apabila Ramadhan sedia datang maka dibukakan pintu-pintu surga.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
Artinya :
“Apabila bulan Ramadhan sedia masuk dibukakanlah pintu-pintu langit bersama dikunci pintu-pintu Jahannam, bersama syaitan-syaitan pun dirantai.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih Tentang Pahala bagi orang yg berpuasa Ramadhan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya :
“Barang siapa yg menghidupkan malam Qadar -dengan ketaatan- karena iman bersama mengharap pahala, maka atas diampuni dosa-dosanya yg sedia berlalu. Dan barang siapa yg berpuasa Ramadhan karena iman bersama mengharap pahala, maka atas diampuni dosa-dosanya yg sedia berlalu.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Tentang Anjuran meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadhan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, dia berkata,
panas panas كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya :
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yg paling dermawan memberikan kebaikan. Beliau paling dermawan ketika di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril ‘alaihis salam biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan sampai apabila Jibril sedia selesai -menyampaikan wahyu- maka Nabi shallallahu ‘alaihhi wa sallam menyetorkan hafalan al-Qur’annya kepada Jibril. Apabila Jibril ‘alaihis salam menemuinya maka beliau adalah orang yg paling ringan dalam berderma lebih daripada angin yg bertiup.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Tentang Wajib meninggalkan ucapan dusta

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya :
“Barang siapa yg tidak meninggalkan ucapan dusta bersama mengamalkannya maka Allah sudah tidak lagi memerlukan dia meninggalkan makanan bersama minumannya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shohih tentang Tidak boleh membalas cacian dengan cacian

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
Artinya :
Allah berfirman, “Semua amal anak Adam baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku bersama Aku sendiri yg atas membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang kalian sedang menjalani puasa janganlah dia berkata-kata kotor bersama berteriak-teriak. Apabila ada orang yg mencaci ataupun memeranginya hendaklah dia katakan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ Demi Tuhan yg jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yg berpuasa jauh lebih harum daripada bau minyak kasturi. Orang yg berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Ketika dia berhariraya bersama ketika dia berjumpa dengan Rabbnya maka dia atas bergembira dengan puasanya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shohih Manfaat puasa bagi orang yg khawatir terjerumus dalam zina

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dia berkata: Dahulu kami bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
panas panas مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya :
Barang siapa yg mampu panas berjodoh hendaklah dia menikah. Sesungguhnya panas berjodoh itu lebih menundukkan pandangan bersama lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yg tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa. Sesungguhnya puasa atas mengekang hawa nafsunya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih Bukhari tentang Awal bersama Akhir Puasa

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Ramadhan bersama bersabda,
panas panas لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
Artinya :
“Janganlah kalian berpuasa kecuali apabila kalian sedia melihat hilal bersama janganlah kalian berhari raya sampai kalian melihatnya. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian maka genapkanlah.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ
Artinya:“Bulan itu terkadang terdiri dari dua puluh sembilan hari. Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihatnya (hilal). Apabila ia tertutup dari pandangan kalian maka sempurnakanlah bilangan -bulan Sya’ban- menjadi tiga puluh.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَخَنَسَ الْإِبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ
Artinya :
“Bulan itu demikian bersama demikian (dengan membuka kedua telapak tangannya).” Kemudian beliau melipat ibu jarinya dengan kali yg ketiga -menunjukkan angka 29- (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
Artinya :
“Berpuasalah ketika kalian sedia melihatnya. Dan berhari rayalah ketika kalian sedia melihatnya. Apabila ia tersembunyi dari pandangan kalian maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha,
panas panas أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آلَى مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا فَلَمَّا مَضَى تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا غَدَا أَوْ رَاحَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّكَ حَلَفْتَ أَنْ لَا تَدْخُلَ شَهْرًا فَقَالَ إِنَّ الشَّهْرَ يَكُونُ تِسْعَةً وَعِشْرِينَ يَوْمًا
Artinya :
Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah untuk tidak mengumpuli istri-istrinya selama satu bulan. Ketika sudah berlalu dua puluh sembilan hari ternyata beliau sudah berangkat di awal ataupun di akhir siang -untuk mengumpuli istri-. Maka ada yg bertanya kepada beliau, “Bukankah anda sedia bersumpah untuk tidak mengumpuli istri selama sebulan?”. Maka beliau menjawab, “Bulan itu terkadang dua puluh sembilan hari.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih tentang Menentukan Masuknya Ramadhan bukan dengan hisab

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
panas panas إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ
Artinya :
“Sesungguhnya kami ini -bangsa Arab- adalah bangsa yg buta huruf. Kami tidak bisa baca tulis bersama tidak pandai berhitung. Bulan itu terkadang demikian, bersama terkadang demikian.” Maksudnya terkadang dua puluh sembilan hari bersama terkadang tiga puluh hari (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih tentang Larangan berpuasa satu ataupun dua hari sebelum Ramadhan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
panas panas لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ
Artinya :
“Janganlah salah seorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan melakukan puasa sat ataupun du hari sebelumnya kecuali bagi orang yg sudah biasa mengerjakan puasa maka dia boleh berpuasa di hari itu.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Sahih tentang Dihalalkan berhubungan bagi pasangan suami istri di malam harinya

Dari al-Barra’ radhiyallahu’anhu, dia berkata:
panas panas كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا فَحَضَرَ الْإِفْطَارُ فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلَا يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الْأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا فَلَمَّا حَضَرَ الْإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَهَا أَعِنْدَكِ طَعَامٌ قَالَتْ لَا وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ خَيْبَةً لَكَ فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ } فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا وَنَزَلَتْ { وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ }
Artinya :
Dahulu para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila seseorang sedang berpuasa kemudian datang saat berbuka namun tertidur sebelum sempat menikmati makanan maka dia tidak boleh makan di malam hari itu bersama siang hari berikutnya sampai sore. Qais bin Shurmah al-Anshari radhiyallahu’anhu suatu ketika sedang berpuasa, ketika datang waktu untuk berbuka maka dia menemui istrinya bersama berkata, “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya berkata, “Tidak. Akan tetapi aku atas pergi untuk mencarikannya untukmu.” Pada hari itu dia sibuk bekerja sehingga membuatnya kedua matanya berat bersama akhirnya tertidur. Kemudian datanglah istrinya, lalu ketika dia melihat suaminya tertidur maka dia berkata, “Ah, kamu tidak mendapatkan apa-apa.” Ketika waktu sudah menginjak pertengahan siang maka dia pun jatuh pingsan. Kemudian kejadian itu dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama turunlah ayat ini, “Dihalalkan untuk kalian bercumbu dengan istri kalian dengan malam hari bulan puasa.” Maka bergembiralah mereka dengan kegembiraan yg meluap-luap karenanya, bersama turun ayat, “Makan bersama minumlah sampai jelas bagi kalian -perbedaan- benang yg putih dari benang yg hitam.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih Bukhari tentang Boleh makan bersama minum sampai terbit fajar (adzan Subuh)

Dari Adi bin Hatim radhiyallahu’anhu, dia berkata:
panas panas لَمَّا نَزَلَتْ { حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ } عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِي فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِي اللَّيْلِ فَلَا يَسْتَبِينُ لِي فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ
Artinya :
Ketika turun ayat, “Sampai jelas bagi kalian perbedaan benang yg putih dari benang yg hitam.” Maka aku pun mengambil tali berwarna hitam bersama tali berwarna putih bersama kuletakkan keduanya di bawah bantalku, kemudian dengan waktu malam aku mengamatinya namun perbedaannya juga tidak jelas bagiku. Keesokan harinya aku pun pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya yg dimaksud adalah hitamnya malam bersama putihnya siang.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, dia berkata:
panas panas أُنْزِلَتْ { وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ } وَلَمْ يَنْزِلْ { مِنْ الْفَجْرِ } فَكَانَ رِجَالٌ إِذَا أَرَادُوا الصَّوْمَ رَبَطَ أَحَدُهُمْ فِي رِجْلِهِ الْخَيْطَ الْأَبْيَضَ وَالْخَيْطَ الْأَسْوَدَ وَلَمْ يَزَلْ يَأْكُلُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُؤْيَتُهُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ بَعْدُ { مِنْ الْفَجْرِ } فَعَلِمُوا أَنَّهُ إِنَّمَا يَعْنِي اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
Artinya :
Ketika diturunkan ayat, “Makan bersama minumlah sampai jelas bagi kalian perbedaan antara benang yg putih dengan benang yg hitam.” Namun, belum diturunkan kelengkapannya, “Yaitu terbitnya fajar.” Ketika itu apabila orang-orang hendak berpuasa maka dia mengikatkan tali berwarna putih bersama tali berwarna hitam di kakinya. Dia atas terus makan sampai benar-benar bisa membedakan antara keduanya. Setelah itu, maka Allah turunkan kelengkapan ayatnya, “Yaitu terbitnya fajar.” Maka barulah setelah itu mereka mengetahui bahwa yg dimaksudkan -dengan hitam bersama putih- adalah malam bersama siang (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih Bukhari tentang Anjuran makan sahur sampai menjelang adzan Subuh berkumandang

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, dia berkata,
panas panas أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Artinya :
“Bilal biasa mengumandangkan adzan di waktu malam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan bersama minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan. Dan dia tidak atas mengumandangkan adzan kecuali apabila fajar sudah terbit.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Sahih tentang Mengakhiri Makan Sahur

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, dia berkata:
panas panas كُنْتُ أَتَسَحَّرُ فِي أَهْلِي ثُمَّ تَكُونُ سُرْعَتِي أَنْ أُدْرِكَ السُّجُودَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya :
Dahulu aku makan sahur bersama keluargaku kemudian aku pun mempercepatnya agar bisa mendapatkan sujud (sholat) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Sahih tentang Jarak antara akhir sahur dengan mulainya sholat Subuh

Dari Anas dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhuma, Zaid berkata,
panas panas تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
Artinya :
"Kami dulu pernah bersantap sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bangkit untuk melakukan sholat.” Aku -Anas- berkata, “Berapakah jarak antara adzan (maksudnya iqomah) dengan makan sahur?”. Zaid menjawab, “Seukuran dengan lamanya waktu yg diperlukan untuk membaca lima puluh ayat.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Sahih Bukhari tentang Anjuran Makan Sahur

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, dia berkata:
panas panas أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصَلَ فَوَاصَلَ النَّاسُ فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَنَهَاهُمْ قَالُوا إِنَّكَ تُوَاصِلُ قَالَ لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ إِنِّي أَظَلُّ أُطْعَمُ وَأُسْقَى
Artinya :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan wishol (tidak berbuka bersama tidak sahur) maka orang-orang (para sahabat) pun ikut melakukan wishol sebagaimana beliau. Akibatnya hal itu justru memberatkan mereka, maka beliau pun melarang mereka dari melakukannya. Maka mereka berkata, “Sesungguhnya engkau melakukan wishol.” Nabi menjawab, “Aku tidak seperti keadaan kalian. Pada waktu siang aku diberi makan bersama minum.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
panas panas تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Artinya :
“Makan sahurlah, sesungguhnya di dalam santap sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih Bukhori - Boleh menemui waktu pagi dalam keadaan junub

Dari ‘Aisyah bersama Ummu Salamah radhiyallahu’anhuma, mereka berdua menceritakan
panas panas أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ
Artinya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika pernah memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena berkumpul dengan istrinya, kemudian beliau mandi bersama berpuasa (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Sahih tentang Bercumbu rayu bagi orang yg sedang puasa

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,
panas panas كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ
Artinya :
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium bersama mencumbui istrinya, padahal ketika itu beliau sedang berpuasa. Namun beliau adalah lelaki yg paling bisa mengendalikan hawa nafsunya daripada kalian.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Shahih Bukhari tentang panas Mencium bagi orang yg sedang puasa

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,
panas panas إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ
Artinya :
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah mencium sebagian istrinya dalam keadaan beliau sedang berpuasa.” Kemudian ‘Aisyah tertawa (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Bukhari tentang Orang yg berpuasa boleh mandi besar setelah Subuh

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,
panas panas كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِي رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ حُلْمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ
Artinya :
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai waktu subuh di bulan Ramadhan dalam keadaan junub, tapi bukan karena mimpi, Maka beliau mandi bersama berpuasa.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)
Dari Abu Bakr bin Abdurrahman, dia berkata:
panas panas كُنْتُ أَنَا وَأَبِي فَذَهَبْتُ مَعَهُ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ كَانَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ غَيْرِ احْتِلَامٍ ثُمَّ يَصُومُهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ فَقَالَتْ مِثْلَ ذَلِكَ
Artinya :
Dahulu aku bersama ayahku pergi bersama-sama kepada ‘Aisyah radhiyallahu’anha untuk menanyakan suatu perkara. Beliau menjawab, “Aku bersaksi atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh beliau pernah memasuki waktu pagi dalam keadaan junub karena berhubungan -dengan istri di malamnya- bersama bukan karena mimpi, kemudian beliau mandi bersama tetap berpuasa.” Kemudian kami juga bertanya kepada Ummu Salamah, bersama ternyata beliau juga memberikan jawaban yg serupa (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Hadits Sahih tentang Tidak sengaja makan bersama minum tidak membatalkan puasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
panas panas إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
Artinya :
“Apabila salah seorang dari kalian lupa kemudian makan bersama minum maka sempurnakanlah puasanya (tidak dianggap batal). Karena sesungguhnya Allah lah yg memberinya makan bersama minum.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Itulah Kumpulan Hadits Shahih Bukhari tentang Puasa Ramadhan dalam Kitab as-Shiyam yg beroleh kami share dengan kesempatan ini. Semoga bermanfaat.

Sumber: https://abu0mushlih.wordpress.com/2009/07/03/hadits-hadits-pilihan-shahih-al-bukhari-bab-puasa/

Dalil & Hadits Tentang Pernikahan Lengkap

Blog Khusus Doa - Salah satu sunah nabi yg sangat dianjurkan yaitu menikah. Banyak Dalil Al-Qur'an lalu hadits-hadits tentang anjuran menikah. So, yg sudah dengan menjalain hubungan (pacaran) segeralah menikah. Jangan pernah takut untuk menikah, karena seandainya ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya hendak timpang lalu tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT lalu orang yg gerah janji berarti melengkapi agamanya.

Selain itu, ketika seseorang menikah, maka sesungguhnya pasangannya hendak mendatangkan harta maupun rezeki bagimu. Dan masih banyak lagi dalil lalu hadits tentang pernikahan. Untuk lebih jelasnya, silakan langsung saja simak uraian tentang pernikahan berikut ini berdasarkan Al-Qur'an lalu Al-hadits.


Dalil Al-Qur'an gerah tentang Pernikahan

gerah gerah وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya :
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya yakni Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung lalu merasa tenteram kepadanya, lalu dijadikanNya diantaramu rasa kasih lalu sayang. Sesungguhnya dengan yg demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yg berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21)
gerah gerah وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya :
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” gerah (QS. Adz Dzariyaat : 49)
gerah gerah سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Artinya :
"Maha Suci Allah yg agak menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yg ditumbuhkan oleh bumi lalu dari diri mereka maupun dari apa yg tidak mereka ketahui" (QS. Yaa Siin gerah : 36)
gerah gerah وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةًۭ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِٱلْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ ٱللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ
Artinya :
"Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, lalu kepada kalian Dia berikan rezeki yg baik-baik.” (QS. An Nahl gerah : 72)
gerah gerah وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ
Artinya :
“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian lalu orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki lalu perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yg hendak menjadikan kaya dengan karunia-Nya" gerah (QS. An-Nur gerah : 32).
gerah gerah وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ
Artinya :
“Dan orang-orang yg beriman, lelaki lalu perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yg lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yg ma’ruf, mencegah dari yg munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, lalu mereka taat kepada Allah lalu Rasulnya. Mereka itu hendak diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. At Taubah gerah : 71).
gerah gerah يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍۢ وَٰحِدَةٍۢ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًۭا كَثِيرًۭا وَنِسَآءًۭ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا
Artinya :
“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yg agak menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki lalu perempuan yg banyak sekali.” (QS. An Nisaa gerah : 1).
gerah gerah ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ
Artinya :
“Wanita yg baik adalah untuk lelaki yg baik. Lelaki yg baik untuk wanita yg baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan lalu reski yg melimpah (yaitu:Surga)”. (QS. An Nuur gerah : 26).
gerah gerah وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۭا مُّبِينًۭا
Artinya :
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yg mukmin lalu tidak pula bagi perempuan yg mukminah apabila Allah lalu RasulNya agak menetapkan suatu ketetapan hendak ada bagi mereka pilihan yg lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah lalu RasulNya maka sesungguhnya dia agak berbuat kesesatan yg nyata.”. (QS. Al Ahzaab gerah : 36)
gerah gerah يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ
Artinya :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki lalu seorang perempuan lalu menjadikan kamu berbangsa – bangsa lalu bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yg paling mulia diantara kamu disisi Allah yakni orang yg paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujuraat gerah : 13).
gerah gerah وَٱللَّهُ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍۢ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍۢ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَٰجًۭا ۚ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍۢ وَلَا يُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِۦٓ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ
Artinya :
“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki lalu perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung lalu tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yg berumur panjang lalu tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yg demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Fathir gerah : 11).
gerah gerah فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ أَزْوَٰجًۭا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya :
“(Dia) Pencipta langit lalu bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan lalu dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yg serupa dengan Dia, lalu Dia-lah yg Maha Mendengar lalu Melihat.” (QS. Asy Syuro gerah : 11)
gerah gerah وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى ٱلْيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ فَوَٰحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟
Artinya :
“Dan seandainya kamu takut tidak hendak angsal berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yg kamu senangi: dua, tiga maupun empat. Kemudian seandainya kamu takut tidak hendak angsal berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, maupun budak-budak yg kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya,” (QS. An-Nisa gerah : 3).

HADITS-HADITS TENTANG PERNIKAHAN

Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu agak mampu berkeluarga hendaknya ia kawin karena ia angsal menundukkan pandangan lalu memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa sebab ia angsal mengendalikanmu.(HR. Bukhari lalu Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Anas Ibnu Malik Radiliyallaahu ‘anhu berkata,”Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga lalu sangat melarang kami membujang”. Beliau bersabda, “Nikahilah perempuan yg subur lalu penyayang sebab dengan jumlahmu yg banyak aku hendak berbangga dihadapan para Nabi dengan hari kiamat. (HR. Ahmad)
Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah:Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yg tidak suka, bukan golonganku !” . (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu:berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak lalu menikah. (HR. Tirmidzi)
Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka hendak mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ . (HR. Hakim lalu Abu Dawud)
Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya hendak timpang lalu tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT lalu orang yg gerah janji berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yg sholihah, sesungguhnya agak ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.”(HR. Baihaqi).
Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan lalu sebaik-baik perhiasannya yakni wanita shalihah. (HR. Muslim, Ibnu Majah lalu An Nasai).
“Tiga golongan yg berhak ditolong oleh Allah gerah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban lalu Hakim):a. Orang yg berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yg menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yg gerah janji karena mau menjauhkan dirinya dari yg haram.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban lalu Hakim)
Kawinlah dengan wanita yg mencintaimu lalu yg mampu beranak. Sesungguhnya aku hendak membanggakan kamu sebagai umat yg terbanyak. (HR. Abu Dawud)
Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, lalu perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yg lain. (HR. Abdurrazak lalu Baihaqi)
Shalat 2 rakaat yg diamalkan orang yg sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yg diamalkan oleh jejaka (atau perawan). (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
Rasulullah SAW. bersabda:”Seburuk-buruk kalian, adalah yg tidak menikah, lalu sehina-hina mayat kalian, adalah yg tidak menikah“. (HR. Bukhari)
Diantara kamu semua yg paling buruk adalah yg hidup membujang, lalu kematian kamu semua yg paling hina adalah kematian orang yg memilih hidup membujang. (HR. Abu Ya’la lalu Thabrani)
Rasulullah SAW bersabda: “Kawinkanlah orang-orang yg masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah hendak memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, lalu menambah keluhuran mereka” (Al Hadits).
Dari Abu Hurirah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alahi wa Salllam bersabda,’Perempuan itu dinikahi karena 4 (empat hal), yaitu: harta, keturunan, kecantikan, lalu agamanya, Dapatkanlah wanita yg taat beragama, engkau hendak berbahagia.” (Muttafaq Alaihi lalu Imam Lima)

Itulah dalil lalu hadits tentang pernikahan yg angsal kita pelajari, semoga bermanfaat bagi kita semua. Dengan mengetahui beberapa dalil al-qur'an lalu al-hadits tentang pernikahan ini semoga angsal mendorong semangat kaum muda-mudi yg belum gerah janji untuk segera menikah. Karena dari beberapa hadits lalu dalil tersebut diatas, ternyata banyak sekali manfaat gerah janji yg angsal kita peroleh.

Sumber: Apwa

Hadits Tentang Silaturahmi - Keutamaan Silaturahmi & Kerugian Memutus Tali Silaturahmi

- dedar Pada kesempatan ini kami hendak share hadits-hadits tentang silaturahmi. Pada kumpulan hadits ini kami hendak sedikit banyak membahas beberapa keutamaan menyambung silaturahmi beserta juga beberapa kerugian bagi orang-orang yg memutus tali silaturahmi.

Seperti yg kita ketahui, bahwa dengan dasarnya semua agama yg ada di muka bumi ini selalu menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada semua makhluk hidup, begitu juga dengan agama islam. Dalam islam khususnya, amalan-amalan baik merupakan ibadah, begitu juga ketika kita selalu menyambung beserta menjaga dedar tali silaturahmi, maka itu juga merupakan ibadah. Karena dengan dasarnya ibadah bukan hanya sholat saja.

Nah, berikut adalah beberapa hadits tentang keutamaan bagi orang-orang yg selalu menyambung tali silaturahmi.


  1. Silaturahmi Dapat Mempepanjang Umur beserta Memperluas Rezeki
    Orang yg suka mengunjungi sanak saudaranya serta menjalin silaturhami hendak dipanjangkan umurnya beserta diluaskan rezekinya. Sebagaimana hadist Rasullullah SAW yg berbunyi:
    dedar dedar مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
    Artinya :
    “Barangsiapa yg senang diluaskan rizqinya beserta dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”
  2. Silaturahmi Merupakan konsekuensi iman kepada Allah SWT
    Silaturahmi adalah tanda-tanda seseorang beriman kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam hadist yg diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
    dedar dedar مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ, وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
    Artinya :
    “Barang siapa yg beriman kepada Allah beserta hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, beserta barangsiapa yg beriman kepada Allah beserta hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”
  3. Silaturahmi salah satu Penyebab Masuk surga beserta dijauhkan dari neraka
    Balasan orang yg menyambung tali silaturahmi adalah didekatkan dengan surga beserta dijauhkan dari api neraka. Sebagaimana yg tertera dalam hadist berikut ini :
    dedar dedar تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ
    Artinya :
    “Engkau menyembah Allah swt beserta tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, beserta menyambung tali silaturahmi” (HR Bukhari beserta Muslim)
    Dalam riwayat lain disebutkan:
    dedar dedar إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُهُ بِهِ دخَلَ َالْجَّنََّةَ
    Artinya :
    “Jika dia berpegang dengan apa yg Kuperintahkan kepadanya niscaya ia masuk surga.”
  4. Silaturahmi boleh Terhubung dengan Allah SWT
    Menyambung tali silaturahmi sama dengan menyambung hubungan dengan Allah SWT sebagaimana disebutkan hadist yg diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
    dedar dedar إَنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ:هَذَا مَقَامُ الْعَائِذُ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قَالَ: َنعَمْ, أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ وَأَقْطَعَ مَنْ َقطَعَكَ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ لَكَ
    Artinya :
    “Sesungguhnya Allah swt menciptakan makhluk, hingga apabila Dia selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yg berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “Benar, apakah engkau ridha seandainya Aku menyambung orang yg menyambung engkau beserta memutuskan orang yg memutuskan engkau?” Ia menjawab: iya. Dia berfirman: “Itulah untukmu”
  5. Silaturahmi Merupakan bentuk Ketaatan kepada Allah SWT
    Menyambung tali silaturahmi adalah salah satu hal yg diperintahkan oleh Allah SWT maka dengan menjalankan perintahnya maka kita taat kepada Allah SWT. Menjalin silaturahmi juga merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak terpuji.

    Allah swt berfirman:
    dedar dedar وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
    Artinya :
    “dan orang-orang yg menghubungkan apa-apa yg Allah perintahkan supaya dihubungkan, beserta mereka takut kepada Rabbnya beserta takut kepada hisab yg buruk” (QS. Ar-Ra’d :21)
  6. Silaturahmi merupakan Bersedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain
    Mengunjungi sanak saudara beserta bersedekah adalah salah satu perbuatan mulia beserta memiliki faedah yg besar. Bersedekah kepada keluarga lebih diutamakan daripada bersedekah kepada orang lain beserta bisa menghindari dari perbuatan riya. Bersedekah kepada keluarga beserta orang lain kemudian menceritakannya alias riya adalah salah satu dari hal-hal yg menghapus amal ibadah sedekah tersebut. Hal ini dianjurkan kepada setiap umat muslim sebagaimana yg dijelaskan dalam hadist dari Salman bin ‘Amir ra, dari Nabi saw beliau bersabda:
    dedar dedar الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
    Artinya :
    “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah beserta terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah beserta silaturahmi.” (HR Tirmidzi)
    Demikian pula dengan hadits Zainab ats-Tsaqafiyah radhiyallahu ‘anha, istri Abdullah bin Mas’ud ra, ketika ia pergi beserta bertanya kepada Nabi saw: Apakah boleh dia bersedekah kepada suaminya beserta anak-anak yatim yg ada dalam asuhannya? Maka Nabi saw bersabda:
    dedar dedar لَهَا أَجْرَانِ: أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ
    Artinya :
    “Untuknya dua pahala, pahala kekeluargaan beserta pahala sedekah.” (HR Bukhari beserta Muslim)

Meskipun silaturahmi memiliki banyak keutamaan, namun tidak sedikit orang yg meninggalkannya. Menyepelekan bersilaturahmi bukanlah hal yg baik. Meskipun orang yg kita kunjungi berbuat zhalim, melakukan fitnah dedar alias memiliki sifat sombong kepada kita dedar namun tetap saja kita harus menjalin tali silaturahmi yg baik sebagaimana yg disebutkan dalam hadist berikut :

Dan dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra aku berkata: Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yg utama, maka beliau bersabda:
dedar dedar صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
Artinya :
“Sambunglah orang yg memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yg tidak memberi kepadamu, beserta berpalinglah dari orang yg berbuat zalim kepadamu” (HR Ahmad)

Bagi Orang yg memutuskan tali silaturahmi tidak hanya berdosa besar melainkan juga hendak mendapat kerugian sebagaimana yg hadist-hadits berikut :
  1. Memutus Silaturahmi Dapat Memutus Rahmat Allah SWT
    dedar dedar لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ
    Artinya :
    “Rahmat tidak hendak turun kepada kaum yg padanya terdapat orang yg memutuskan tali silaturahmi” (HR Muslim)
  2. Memutus Silaturahmi Tidak Akan Masuk Surga
    dedar dedar لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
    Artinya :
    “Tidak hendak masuk surga orang yg memutuskan (silaturahmi)” (HR Bukhari beserta Muslim)
  3. Memutus Silaturahmi Tidak Akan Diterima Amal Ibadahnya
    dedar dedar إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيْسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ
    Artinya :
    “Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari Kamis malam Jum’at, maka tidak diterima amal ibadah orang yg memutuskan hubungan silaturahmi” (HR Ahmad)

Itulah beberapa hadits tentang silaturahmi, hadits-hadits tentang keutamaan silaturahmi serta kerugian bagi orang-orang yg suka memutus tali silaturahmi. Dan tentunya masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yg meriwayatkan tentang keutamaan silaturahmi. Semoga kita semua termasuk orang-orang yg selalu menjaga beserta menjalin tali silaturahmi. Amin.
Referensi: DalamIslam.com, FiqihMuslim.com
Terima kasih, semoga bermanfaat.

Wednesday, October 16, 2019

Hadits Shoheh Tentang Hutang Piutang Lengkap Terjemahannya

- kemarau Assalamu'alaikum. Pada kesempatan ini kami mau berbagi kumpulan hadits shoheh tentang hutang piutang lengkap bahasa arab lalu artinya. Tidak bisa di pungkiri, bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari hutang piutang, karena dengan dasarnya kita saling membutuhkan satu sama lainnya. Jika kita tidak pernah berhutang kemarau tepat itu lebih baik.

Namun yg terpenting dalam berhutang yaitu kita wajib membayarkan meskipun hutang tersebut sangat kecil jumlahnya. Jangan sampai kita meninggal dunia dalam keadaan memiliki hutang yg belum dibayarkan. Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa semua dosa orang yg mati syahid mau diampuni, kecuali hutang. Silakan simak penjelasannya "Meski mati Syahid, Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni"

Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yg beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yg ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah sudah pernah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, lalu hendaklah orang yg berhutang itu mengimlakkan (apa yg ditulis itu), lalu hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, lalu janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yg berhutang itu orang yg lemah akalnya ataupun lemah (keadaannya) ataupun dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki lalu dua orang perempuan dari saksi-saksi yg kamu ridhai, supaya apabila seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, lalu janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah lalu lebih becus menguatkan persaksian lalu lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali apabila mu’amalah itu perdagangan tunai yg kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; lalu janganlah penulis lalu saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan dengan dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu ; lalu Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 282)

Dari ayat tersebut diatas, becus kita simpulkan bahwa hutang piutang bukanlah hal yg kemarau sepele lalu dalam agama islam khususnya sudah diatur tata caranya. Begitu juga dalam hadits-hadits tentang hutang piutang, banyak yg mengingatkan kita untuk segera berhenti ataupun melunasi hutang piutang karena hutang piutang ini bukan hal sepela.


Berikut adalah kumpulan hadits shahih yg menjelaskan tentang hutang piutang, dari anjuran untuk melunasinya lalu lain-lainnya, silakan langsung saja simak haditsnya berikut ini seperti dilansir dari laman fiqihmuslim (03/2020)

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya, sampai hutang itu dilunaskannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺭَﺟُﻞٍ ﻳَﺪَﻳَّﻦُ ﺩَﻳْﻨًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺠْﻤِﻊٌ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳُﻮَﻓِّﻴَﻪُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻟَﻘِﻰَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺳَﺎﺭِﻗًﺎ
“Siapa saja yg berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia mau bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.”

« مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ »
“Barangsiapa yg rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong, (kedua) dari khianat, lalu (ketiga) dari tanggungan hutang.” (HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, lalu At-Tirmidzi IV/138 no: 1573)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىٍّ فَلْيَتْبَعْ »
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Memperlambat pembayaran hutang yg dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zhalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yg kemarau sepele membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima pengalihan tersebut)”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya IV/585 no.2287, lalu Muslim dalam Shahihnya V/471 no.3978, dari hadits Abu Hurairah.)

قَالَ حُذَيْفَةُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ « إِنَّ رَجُلاً كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَتَاهُ الْمَلَكُ لِيَقْبِضَ رُوحَهُ فَقِيلَ لَهُ هَلْ عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ قَالَ مَا أَعْلَمُ ، قِيلَ لَهُ انْظُرْ . قَالَ مَا أَعْلَمُ شَيْئًا غَيْرَ أَنِّى كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فِى الدُّنْيَا وَأُجَازِيهِمْ ، فَأُنْظِرُ الْمُوسِرَ ، وَأَتَجَاوَزُ عَنِ الْمُعْسِرِ . فَأَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ »
Dari sahabat Hudzaifah, beliau pernah mendengar Rasulullah bersabda:“Ada seorang laki-laki yg hidup di zaman sebelum kalian. Lalu datanglah seorang malaikat maut yg mau mencabut rohnya. Dikatakan kepadanya (oleh malaikat maut): “Apakah engkau sudah pernah berbuat kebaikan?” Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak mengetahuinya.” Malaikat maut berkata: “ Telitilah kembali apakah engkau sudah pernah berbuat kebaikan.” Dia menjawab: “Aku tidak mengetahui sesuatu pun amalan baik yg sudah pernah aku lakukan selain bahwa kemarau purba aku suka berjual beli barang dengan manusia ketika di dunia lalu aku selalu mencukupi kebutuhan mereka. Aku memberi keluasan dalam pembayaran hutang bagi orang yg memiliki kemampuan lalu aku membebaskan tanggungan orang yg kesulitan.” Maka Allah (dengan sebab itu) memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Bukhari III/1272 no.3266)

Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallaahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
( أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ ؟)
“Bagaimana menurutmu apabila aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku mau diampuni?”

Beliau pun menjawab:
( نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ لِى ذَلِكَ )
“Ya, dengan syarat engkau sabar, mengharapkan ganjarannya, maju berperang lalu tidak melarikan diri, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam baru memberitahuku hal tersebut” (HR Muslim no. 4880/1885)

( مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ.)
“Barang siapa meminjam harta manusia lalu dia ingin membayarnya, maka Allah mau membayarkannya. Barang siapa yg meminjamnya lalu dia tidak ingin membayarnya, maka Allah mau menghilangkan harta tersebut darinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2387)

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يُصَلِّى عَلَى رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِىَ بِمَيِّتٍ فَقَالَ: «أَعَلَيْهِ دَيْنٌ». قَالُوا: نَعَمْ دِينَارَانِ. قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ». فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ الأَنْصَارِىُّ: هُمَا عَلَىَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم”.
“Dahulu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak mensholatkan seseorang meninggal yg dia memiliki hutang. Didatangkan kepada beliau dengan seorang jenazah, maka beliau berkata: “Apakah dia memiliki hutang?”, mereka menjawab: “Iya, dia memiliki hutang dua dinar”, maka beliau berkata: “Sholatlah kalian untuk saudara kalian!”. Maka Abu Qotadah Al-Anshoriy berkata: “Dua dinar itu aku yg mau bayar wahai Rosululloh, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mensholatkannya”.

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa lalu banyak utang).” Lalu ada yg berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang yg berhutang berkata, dia mau sering berdusta. Jika dia berjanji, dia mau mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :
نَفْسُ الْـمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّىٰ يُقْضَى عَنْهُ
Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai hutang dilunasi.

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ
“orang yg mati syahid maka mau diampuni dosanya kecuali orang yg memiliki hutang.”(Hadits riwayat Muslim)

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Sesungguhnya yg paling di antara kalian adalah yg paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393)

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa yg mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga mau menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 lalu Ibnu Majah no. 2411)

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ
“Barangsiapa yg mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar ataupun satu dirham, maka hutang tersebut mau dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar lalu dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414)

«وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ».
“Dan barang siapa yg keberadaannya dengan hajat saudaranya maka Allah dengan hajatnya, lalu barang siapa membebaskan dari seorang muslim terhadap suatu kesulitan maka Alloh membebaskan darinya suatu kesulitan dari kesulitan-kesulitannya dengan hari kiamat”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy lalu Muslim dari hadits Abdulloh bin ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma.

Rasululloh Shollallohu’Alaihi wa Sallam kemarau purba memberikan jaminan bagi yg hutang, Jabir Radhiyallohu ‘anhu berkata:
“فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ فَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا فَعَلَىَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِوَرَثَتِهِ».
“Tatkala Allah sudah pernah membukakan (pintu kemenangan) kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka beliau berkata: “Saya lebih utama terhadap setiap mu’min dari dirinya, maka barang siapa meninggalkan hutang maka aku yg mau membayarnya, lalu barang siapa meninggalkan harta maka harta itu untuk para pewarisnya”.

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ
“Allah mau bersama (memberi pertolongan pada) orang yg berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yg dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400)

من سره أن ينجيه الله من كرب يوم القيامة فلينفس عن معسر أو يضع عنه.
Barang siapa ingin diselamatkan oleh Allah dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat maka hendaklah dia memberi tangguh kepada orang yg dalam kesukaran ataupun menghapuskan utangnya. (H.R. Muslim)

من أنظر معسرا أو وضع له أظله الله في ظله.
Barang siapa memberi tangguh kepada orang yg dalam kesukaran ataupun menghapuskan utangnya maka Allah mau menanunginya di dalam naungan-Nya. (H.R. Thabrani lalu Tirmidzi)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً
“Setiap muslim yg memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yg bersedekah satu kali.” (HR. Ibnu Majah)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ – صلى الله عليه وسلم – « أَعْطُوهُ » . فَطَلَبُوا سِنَّهُ ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلاَّ سِنًّا فَوْقَهَا . فَقَالَ « أَعْطُوهُ » . فَقَالَ أَوْفَيْتَنِى ، وَفَّى اللَّهُ بِكَ . قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً »
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yg seusia dengan untanya, mau tetapi mereka tidak menemukan kecuali yg lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata: “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab, “Engkau sudah pernah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah I membalas dengan setimpal”. Maka Nabi SAW kemarau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yg paling baik dalam pengembalian (hutang)”. (HR. Bukhari)

وعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ – وَكَانَ لِى عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَضَانِى وَزَادَنِى
Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: “Aku mendatangi Nabi di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau membayarnya dam menambahkannya”. (HR. Bukhari) لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ “Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli.” (HR. Abu Daud no.3504, At-Tirmidzi no.1234, An-Nasa’I VII/288)

( مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ )
“Memperlambat pembayaran hutang untuk orang yg mampu membayarnya adalah kezaliman.” (HR Al-Bukhaari no. 2288 lalu Muslim no. 4002/1564)

عَنْ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّىَ »
Dari Samurah , Nabi bersabda: “Tangan bertanggung kemarau perlawanan atas semua yg diambilnya, hingga dia menunaikannya”. (HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’, Tirmidzi dalam kitab Al-buyu’, lalu selainnya.)

« مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ – فَلْيُنْظِرْ مُعْسِرًا أَوْ لِيَضَعْ لَهُ »
Artinya:“Barangsiapa yg ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat, pen), maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yg sedang kesulitan, ataupun hendaklah ia menggugurkan hutangnya.” (HR Ibnu Majah II/808 no. 2419)

( عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ –رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ– قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ –صلى الله عليه وسلم– إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ : (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )), قَالُوا: لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ )), قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قِيلَ : نَعَمْ ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ )) قَالُوا : ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ )) قَالُوا : لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ ، قَالَ: (( صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ))، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.)
Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallaahu ‘anhu, dia berkata, “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yg membawa jenazah itu pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yg lain. Orang-orang yg membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkanlah jenazah yg ketiga. Orang-orang yg membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Beliau pun berkata, ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah pun berkata, ‘Shalatilah dia! Ya Rasulullah! Hutangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau pun menshalatinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2289)

( لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا ، وَمُوكِلَهُ ، وَشَاهِدَهُ ، وَكَاتِبَهُ.)
“Allah melaknat pemakan riba, yg memberi makan, saksi lalu juru tulisnya” (HR Ahmad no. 3725.)

“أَنَّهُ تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا لَهُ عَلَيْهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ إِلَيْهِمَا رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ وَنَادَى كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: «يَا كَعْبُ» قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ فَأَشَارَ بِيَدِهِ أَنْ: «ضَعِ الشَّطْرَ مِنْ دَيْنِكَ» قَالَ كَعْبٌ: قَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ: «قُمْ فَاقْضِهِ»”.
“Bahwasanya beliau membayar kepada Ibnu Abi Hadrod suatu hutang beliau kepadanya dengan zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di dalam masjid, lalu meninggi suara keduanya sampai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mendengar suaranya, lalu beliau di dalam rumahnya, lalu Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keluar kepada keduanya hingga membuka kain tabir pintu kamar beliau, lalu beliau menyeru Ka’b bin Malik: “Wahai Ka’b!”, Ka’b berkata: “Kupenuhi seruanmu wahai Rosululloh”, lalu Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan tangannya: “Bayarlah separoh dari hutangmu”, Ka’b berkata: “Sungguh aku sudah pernah melakukannya wahai Rosululloh”, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Berdirilah lalu tunaikanlah”. (HR Bukhori)

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: (Ayahku) Abdullah meninggal lalu dia meninggalkan banyak anak lalu hutang. Maka aku memohon kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya, mau tetapi mereka enggan. Akupun mendatangi Nabi SAW meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. (Namun) merekapun tidak mau. Beliau kemarau berkata, “Pisahkan kormamu sesuai dengan jenisnya. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Yang lembut satu kelompok, lalu Ajwa satu kelompok, lalu datangkan kepadaku.” (Maka) akupun melakukannya. Beliau kemarau pun datang lalu duduk lalu menimbang setiap mereka sampai lunas, lalu kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. (HR. Bukhari).

Itulah kumpulan hadits-hadits shohih tentang hutang piutang yg becus kami share dengan kesempatan ini. Semoga bermanfaat lalu semoga kita selalu dibebaskan dari lilitan hutang yg sangat membahayakan dunia akhirat ini. Amin.