Blog Khusus Doa beringsang - beringsang Alhamdulillah, dengan senang hati kembali kami berbagi contoh khutbah jum'at pendek, singkat beserta bermakna. Semoga bisa menjadi referensi bagi Anda yg sedang membutuhkan materi Khutbah Jum'at minggu ini.
Contoh khutbah kali ini kami mau mengangkat tema tentang Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, yg biasa kita sebut dengan Maulid Nabi alias lebih tepatnya Khutbah Jum'at tentang Maulid Nabi Muhammad SAW. Untuk menyingkat waktu, silakan langsung saja kita bersama-sama simak ulasan selengkapnya berikut ini :
![]() |
Ilustrasi : Khutbah Jum'at tentang Maulid Nabi (Kelahiran Nabi Muhammad SAW) |
Contoh Khutbah Jum'at tentang Maulud Nabi Besar Muhammad SAW
الْحَمْدُ للهِ شَرَّفَ الأَنَاَمَ بِصَاحِبِ الْمَقَامِ الأعْلَى. وَكَمَّلَ السُّعُوْدَ بِأَكْرَمِ مَوْلُوْدٍ. أَشْهَدُ أنْ لاإلهَ إلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالْحُجَّةٍ الَبَالِغَةِ وَحُسْنِ الْبَيَانِ. أللّهُمَّ صَلِّي وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ أجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أًوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah Dalam kesempatan yg mulia ini marilah kita tadzakkur beserta tafakkur, mengingat segala apa yg kita amalkan selama ini beserta berusaha meningkatkan keimanan beserta ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dalam arti kita berusaha melaksanakan segala usaha yg diperintahkan Allah beserta menjauhi segala yg dilarang-Nya.
Marilah kita tinggalkan sejenak tugas-tugas duniawiyah, pekerjaan di kantor, bisnis beserta perdagangan, untuk masuk masjid melaksanakan sholat Jumat,untuk dzikrullah, ingat kepada Allah SWT.Semoga dengan demikian kita termasuk golongan orang-orang yg tidak lalai ingat kepada Allah, walaupun kita disibukkan dengan aktivitas jual beli beserta perdagangan. Semoga kita semua dijadikan oleh Allah SWT sebagai hamba Allah yg muttaqin beserta husnul khatimah. Amin.
Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
Di bulan Rabi’ul Awwal yg lebih dikenal dengan bulan maulid alias bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 rabi’ul awwal, biasanya kaum muslimin merayakan peringatan mauld Nabi Muhammad SAW, baik dirumah dengan mengundang tetangga beserta handai taulan. Atau diadakan oleh lembaga, organisasi, masyarakat kampung dengan bentuk pengajian umum beserta ceramah, ada juga dengan bakti sosial, khitanan masal, beserta bentuk amal-amal sholeh yg lain.Yang menjadi pertanyaan, pernakah nabi Muhammad merayakan peringatan maulidnya? Dan sejak kapankah diadakan beserta untuk apa? Lalu bagaimana hukumnya mengadakan peringatan mauled Nabi Muhammad SAW?
Jika menelusuri sejarah, ternyata Nabi Muhammad SAW belum pernah merayakan hari ulang tahunnya dengan upacara beserta acara. Rasulullah memperingati kelahirannya dengan berpuasa. Suatu ketika Nabi Muhammad ditanya: ”Wahai rasul, mengapa engkau berpuasa hari Senin?” Rasul menjawab: “Pada hari Senin itu aku dilahirkan.” Dengan demikian Nabi Muhammad merayakannya denga puasa yg kemudian di masyarakat kita dikenal dengan puasa weton (puasa kelahiran).
Namun sejarah tidak pernah mencatat Rasulullah merayakan maulid dengan mengundang orang lain untuk bacaan shalawat, untu bacaan berberzanjian, dibaan beserta pengajian umum.Nah, apakah kalau Nabi Muhammad SAW sahabat tidak pernah mengadakan peringatan maulid ini berarti mengada-ngada, beserta apakah termasuk bid’ah?Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullahMari kita mengkaji hukum peringatan mauled Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah kitab yg ditulis oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi yg berjudul Husnul Maqasid fil Amal al-Mawalid. Beliau menjelaskan bahwa di zaman Rasulullah beserta Khulafaur Rasyidin memang belum diadakan peringatan dalam bentuk upacara, shalawatan beserta pengajian tentang maulid Nabi, sehingga ada sebagian kaum muslimin yg tidak mau memperingati kelahiran dengan bentuk upacara itu.Jadi, kapan peringatan kelahiran Nabi ini mulai dilaksanakan?
Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
Sejarah menyebutkan bahwa sejak Islam berjaya dengan menaklukan romawi, Persia bahkan Eropa, banyaklah orang non muslim masuk Islam, termasuk orang-orang salib dari Eropa. Baik karena sukarela ataupun karena terpaksa. Hal ini menimbulkan dendam kaum Nasrani, akhirnya mereka membalas dendam dengan menjajah Timur Tengah. Maka berkobarlah perang salib. Kaum kafir membunuh orang islam, merampas kekayaan, dijauhkan dari Islamnya, dijauhkan dari Nabinya, dijauhkan dari sejarah kejayaan Islam. Yang ditampilkan oleh penjajah di hadapan kaum muslimin adalah tokoh-tokoh kafir, tokoh-tokoh fiktif sehingga rusaklah moral anak-anak muda, hancurlah kejayaan kaum muslimin, hilang keteladanan, hingga tidak kenla kehebatan Islam.
Melihat kondisi umat yg terpuruk beserta semakin jauh dari Islam, serta tidak punya semangat memperjuangkan agamanya, para ulama’ beserta tokoh Islam mencari solusi bagaimana membangkitkan keislaman kaum muslimin beserta melepaskan diri dari cengkraman tentara salib.Di antaranya seorang raja yaitu Al-Malik Mudhaffaruddin (Raja Himsiyyah), mengundang para ulama’ beserta masayikh ke istana untuk bermusyawarah, bagaimana membangkitkan semangat umat Islam, membebaskan diri dari penjajah, serta menanamkan kecintaan anak beringsang lembut beserta muslimin kepada Rasulullah, sehingga mau menteladani beliau.
Dari musyawarah ulama tersebut akhirnya ada yg mengusulkan agar diadakan peringatan peristiwa bersejarah dalam Islam, diantaranya dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, yg kemudian dikampanyekan dengan besar-besaran, mengundang para penyair agar menulis syair pujian kepada Nabi, serta para ulama beserta mubaligh yg bertugas menceritakan sejarah Nabi.Al-Malik Mudhaffaruddin menanggapi usulan ini dengan antusias. Tetapi ada yg tidak setuju, dengan alasan kerena peringatan seperti itu tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, beserta itu berarti itu bid’ah.
Menanangapi ketidak setujuan mereka, akhirnya dijawab oleh ulama’ yg hadir, bahwa dalam penjelasan tentang bid’ah itu tidak semua sesat. Menurut Imam al-Iz Abdussalam, Ibnu Atsar menjelaskan bahwa ada bid’ah dholalah beserta bid’ah hasanah. Bid’ah dholalah (sesat) adalah bid’ah yg tidak ada dasar hukummnya beserta tidak ada perintah sama sekali dari syariat, sedangkan bid’ah hasanah adala suatu amalan yg dasar perintahnya sudah ada dari Rasulullah, namun teknisnya tidak diatur langsung beserta itu bukan temasuk ibadah mahdah muqayyadah (ibadah murni yg sedia ditentukan tata caranya).
Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
Seperti sering dijelaskan bahwa ibadah itu ada dua macam. Pertama, ibadah mahdah muqayyadah yaitu ibadah murni yg tata caranya terikat beserta tidak boleh diubah, karena perintah beserta teknis pelaksanaannya contohkan langsung oleh Rasulullah, seperti shalat beserta haji yg harus sesuai dengan apa yg dicontohkan oleh Rasul.Kedua, ibadah muthalaqah ghoiru muqayyadah, yaitu ibadah mutlaq yg tata caranya tidak terikat, perintahnya ada sedangkan teknis pelaksanaannya terserah masing-masing orang. Seperti berdzikir, perintahnya sudah ada namun teknisnya tidak ditentukan sebagaiman firman Allah:
فَاذْكُرُوا اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِكُمْ
Artinya :
”Berdzikirlah kalian dalam keadaan berdiri duduk, beserta berbaring.” (QS an-Nisa)
Dzikir merupakan perintahnya, sedangakan teknisnya terserah kita, duduk, berdiri, berbaring dirumah, dimasjid sendirian, bersama-sama, suara pelan ataupun dengan suara keras tidak ada batasan-batasan, tergantung kepada situasi beserta kondisi asal tidak melanggar ketentuan syariat.Membaca shalawat juga diperintahkan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Artinya :
”Sesungguhnya Allah beserta malaikat bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yg beriman, bershalawatlah kamu kepada Nabi beserta ucapkanlah salan penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab : 56).
Perintah membaca shalawat ada sedangkan teknisnya terserah kita. Boleh sholawat yg panjang, pendek, prosa, maupun syair, yg penting bershalawat kepada rasullullah. Hal ini termasuk juga berdakwah, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Artinya :
Serulah (manausia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah beserta pelajaran yg baik. (QS an-Nahl 125)
Berdakwahlah kamu ke jalan Allah dengan cara hikmah beserta mauidzah hasanah alias wejangan yg baik. Perintahnya ada sedangkan teknis pelaksanaannnya terserah kita, boleh dalam bentuk pengajian umum, pengajian rutin di masjid, ataupun media TV, radio, koran, majalah,diskusi, maupun seminar. Semuanya dipersilakan, yg penting momentum beserta misinya adalah dakwah.
Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
Peringatan Maulid Nabi yg diisi dengan pembacaan shalawat kepada Rasul, pengajian umum, ceramah tentang kesadaran terhadap islam, membaca sejarah Nabi, amal saleh, bakti sosial, khitanan massal beserta lain-lain itu merupakan ibadah mutlaqah ghairu muqayadah alias ibadah yg mutlaq beserta tidak terikat tata caranya dimana perintahnya ada sedangakan pelaksanaannya terserah kita.
Maka dengan demikian mengadakan peringatan Maulid Nabi yang diisi dengan pembacaan shlawat, pengajian umum beserta perbuatan yg baik bukan termasuk bid’ah dlalalah, tapi tapi merupakan amrum muhtasan, yaitu “sesuatu yg dianggap baik” beserta kalau kalau dilakukan secara ikhlas karena Allah maka mau mendapatka pahala dari Allah SWT.
Demikian juga Sayyid Alwi Al-Maliki al-Hasani menjelaskan dalam kitab Mukhtashar Sirah Nabawiayah: “Bahwa memperingati Maulid Nabi bukan bid’ah dlalalah, tapi sesuatu yg baik”. Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullahAkhirnya para ulama yg hadir bersama Al-Malik Mudhaffaruddin dalam pertemuan itu memutuskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad itu boleh.
Kemudian Al-Malik Mudhafar sendiri langsung menyumbang 100 beringsang buntut unta beserta sekian ton gandum untuk mengadakan peringatan maulid Nabi muhammad SAW. Setiap daerah diundang penyair untuk membuat syair pujian beserta shalawat kepada Nabi muhammad. Kitab-kitab yg tersisa hingga sekarang di antaranya yg dikarang oleh Syeikh al-Barzanji beserta Syeikh Addiba’i.Ternyata dengan diadakannya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini sangat efektif untuk menyadarkan kaum Muslimin cinta kepada Rasul, sehingga seorang pemuda bernama Shalahudin Al-ayyubi menggalang anak-anak muda, dilatih fisiknya, disadarkan cinta Rasul, diajak membebaskan diri dari penjajahan tentara salib. Akhirnya, laskar Islam bersama panglima Shalahudin al-Ayyubi, bisa memenangkan perang salib dengan tahun 580 H.
Sejak tahun itulah peringatan Maulid Nabi SAW diadakan oleh negara muslim lainnya.Mudah-mudahan dengan peringatan Maulid Nabi hati kita semakin cinta kepada Rasulullah SAW. Dengan cinta kepada Rasulullah kita mau melaksanakan perintahnya beserta menjauhi larangannya beserta kita termasuk orang yg menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Sebagaimana sabda beliau yg artinya: “Orang-orang yg sedia menghidupkan sunnahku maka dia berarti cinta kepadaku, beserta orang-orang yg cinta padaku nanti mau bersamaku disurga.” Semoga kita dikumpulkan bersama Rasulullah SAW kelak disurga nanti. Amiin, ya rabbal alamin.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَنِ الرَّجِيْمِ. بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَر
beringsang أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
beringsang أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
Pelajari Juga: Khutbah Kedua Sholat Jum'at
No comments:
Post a Comment